Selasa, 19 Maret 2013

Sang Maestro Jalanan




Siang itu selasa, 19 Maret 2013. Sekitar jam09.50 di bus jurusan Magelang-Yogyakarta, aku bertemu dengan nya lagi..Seorang pria berusia lima puluhan dengan topi dan seragam kebesaran yang selalu menjadi daya tariknya.
Selang beberapa menit setelah ia naik ke dalam bis itu dan setelah ber bla..bla..bla..Ia pun memulai aksinya.
Tampan diiringi alat music apapun pria itu menyenandungkan sebuah lagu yang eksis tensinya mulai tergusur oleh perkembangan zaman..yeah, sebuah lagu daerah..sebuah gending jawa berjudul “gambang suling”.
Diusianya yang telah mencapai setengah abad itu, suara tuanya masih cetar membahana badai bagi ku. Dan inilah sekelumit syair gending “gambang suling”…
“Gambang suling kumandang suarane..
Tulat tulit mengkono unine
Unine mong nrenyohake…..”
Sejenak akupun terhanyut menikmati syair gending itu..kapan ya terakhir kali aku menyanyikannya dan kapan ya terakhir kali aku mendengarnya??...ahh Terasa lama sekali.. Namun, di dalam bus yang melaju kencang itu nampaknya hanya aku saja yang terhanyut karena tak satupun penumpang yang tampak menyimak..mereka sibuk hanyut dalam pikiran mereka masing-masing dan bahkan memilih untuk memejamkan mata. Bagi mereka lagu yang penuh makna itu bak lagu pengantar tidur saja…
Setelah lagu selesai disenandungkan, si pria setengah abad itu pun hanya mendapatkan beberapa keping uang receh. Yah, lumayan karena sebagian penumpang malah memalingkan wajah ketika si pria itu menganggsurkan kotaknya.
Berbagai pertanyaan menjejali pikiran ku. Berteriak-teriak meminta sebuah penjelasan..sebuah jawaban. Seharga itukah lagu daerah pada zaman sekarang ini?seharga uang recehan…dimanakah letak kesalahannya? Apa karena dibawakan oleh seorang pengamen di dalam bus atau apa????
Apapun itu jawabannya, aku secara diam-diam telah menyelipkan sebuah predikat untuk pria setengah abad itu. Untuknya yang secara sengaja ataupun tidak sengaja telah menjaga peninggalan budaya tanah jawa ini lewat senandungnya..lewat gending-gending jawa yang ia nyanyikan. Terimakasih kepada mu “sang maestro jalanan”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar