Rabu, jam 14.00 Wib
Angkot kecil berwarna coklat itu berhenti dilampu merah daerah
Gejayan. Ditengah matahari yang masih bersinar terik dan kendaraan bermotor
yang berjubel menghasilkan karbon dioksida yang memenuhi udara, Neza bertemu
dengan anak kecil itu.
Anak kecil dengan tubuh kerempeng, berkulit coklat terpanggang
matahari dan tanpa memakai alas kaki. Anak itu nekat berjalan menyelinap
diantara kendaraan-kendaraan yang sedang berhenti dilampu merah itu. Ia
menyodorkan kalengnya meminta-minta. Alif, sebutan yang diberikan Neza pada
anak kecil itu. Entah, siapa nama anak itu sebenarnya. Namun. Neza perkirakan
usia anak itu sekitar delapan atau Sembilan tahunan.
“mbak…minta
uangnya mbak…”. Suara Alif menyadarkan Neza dari lamunannya.
Segera ia mengulurkan uang yang ia punya kekaleng si Alif. “Kemana
sebenarnya orang tua mu Alif??”, tanya Neza dalam hati. Kadang Neza berfikir
bahwa tindakannya barusan tidaklah mendidik, karena akan membuat si Alif akan
kembali meminta-minta di kesesokan harinya.
Namun, ia tidak
bisa menyalahkan dirinya 100% karena ia hanya seorang manusia yang dikarunia
rasa iba. Lalu siapa yang akan membenarkan pemahaman si kecil Alif???siapa yang
perduli akan nasib Alif???siapa yang sebenarnya salah??. Masyarakat yang terlalu
iba dan membiarakan pemahaman yang salah??orang tua Alif atau Pemerintah???
Siapa sebenarnya
yang perduli pada si Alif kecil??
Tidak ada komentar:
Posting Komentar