Senin, 20 Mei 2013

SLOW MEND




            Rabu 19.25..Neza berjalan pulang dari kampusnya. Entah kenapa seharian itu pikiran Neza melayang kemana-mana. Tugasnya yang menggunung kembarpun terbengkalai karenanya.
Jenuh dan penat bercampur jadi satu.
Neza merogoh kantung doraemonnya (sebutan untuk tas gendongnya yang bisa dimasuki segala macam barang) mencari headset kesayangannya. “maaf ya, aku pinjam dunianya sebentar”. Dalam beberapa detik kemudian Neza tampak khusuk mendengarkan lantunan ayat-ayat suci al qur’an dr mp3nya dan entah sadar atau tidak bibirnya tampak komat-kamit menirukan bacaan sang qori’. Dunia serasa hanya miliknya saja.
Beberapa orang yang berpapasan jalan dengan Neza melihatnya dengan mimik yang agak bertanya-tanya. “Merapal mantra apa ya mbaknya ini”…hehehe mungkin itu yang terlintas dipikiran mereka.
Tiba-tiba Neza melepaskan headsetnya dan tampak celingak-celinguk mencari-cari sesuatu. “Eemm…perasaanku tadi ada yang manggil deh. Tapi ko gak ada orangnya yah?”.
“sudahlah…”, batin Neza sambil berlalu.
            Saat ia sampai di gang dengan penerangan yang agak remang sedang tiba-tiba seorang lelaki bersepeda motor memotong langkahnya dan mengatakan sesuatu. Samar-samar seperti berkata “ayo….jhfjhdsfkl…pulang”.
“Dasar mas-mas ganjen…”.
Dengan cuek Neza melangkah melewati sang lelaki yang tampak masih melongo.
“Untung jalanannya ramai kalau enggak…hhhiiiii…”.
Bergidik juga Neza membayangkannya.
            “Tiiin..tiiinnnn…tiiinnnn…, ayo ku antar pulang”, kata lelaki itu lagi.
Nampaknya ia masih mengikuti Neza dari belakang. “Hem..minta dikasih bogem nh orang”, batin Neza dengan muka agak kesal. “Eh…tunggu..tunggu…sepertinya aku…”.
            “Omeeeennnd…”,jerit Neza tanpa sadar.
“Sssstttzzz..jangan keras-keras. Kamu tuh malu-maluin aku banget. Udah dipanggil-panggil dari tadi gak jawab. Ditawarin tumpangan malah dicuekin, sekarang malah teriak-teriak”, katanya dongkol.
Neza hanya bisa nyengir menyadari tingkah konyolnya. “Aku lagi dengerin headset mend…”.
            “Ditambah gak make kacamata. Hem  parah…untungnya aku  tuh orang yang baik hati”.
“Hahahahaha…”. Mereka pun tertawa bersama.
Dijalan mereka pun saling bertukar cerita. Mengingat kembali masa-masa KKN ditempat terpencil yang penuh dengan keseruan.
***
            Omend nama lelaki itu namun Neza menjulukinya “Slow mend”. Mau tahu kenapa???. Karena dia orang yang paling leleeeettt dan paling nyantaaaiii diantara temen satu kelompoknya.
Contohnya saja saat Neza dan teman-temannya mengadakan sosialisasi tentang pupuk kandang.
            “Lho, Nez. Si Omend mana??”.
            “Hem…tercecer dimana lagi nih anak”, batin Neza heran
Dengan agak dongkol  karena medannya yang naik turun dan udara yang panas, Neza pun kembali lagi ke Posko mencari temannya yang tertinggal.
Bingung juga Neza mendapati keadaan posko yang sepi tanpa penghuni. Beberapa menit kemudian Slow mend pun muncul dengan handuk dipundaknya. Belum lagi Neza harus menunggunya berganti baju dan aksi-aksi lainnya yang menambah panjang durasi menunggu….
            “HuuUuuAAAAaaaaa….LlaaaammMMaaaa”. teriak Neza dengan perasaan super gondok.
***
“Tan..kita piket masak kan hari ini?”, tanya Opah sambil menghampiri Neza.
“Hem..ma slow mend tuh. Bangunin gih..”.
Opah pun segera masuk ke kamar untuk membangunkan rekan masaknya. Grubak..grubuk..terdengar dari luar kamar. Beberapa saat kemudian Omend keluar dari kamar dengan sarung dan mata yang masih terpejang. Hem…Neza hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah temannya itu.
            Nah..nah mau jalan kemana dia?...”Kriet..bruukkk..”. Kini Neza melongo melihat Omend yang masuk ke kamar cewek.
            “mana Si Omend???”, tanya Opah dengan beberapa bungkus mie instan ditangannya.
Neza mengarahkan telunjuknya ke kamar cewek. Buru-buru mereka berdua menyusul Omend, dan mendapatinya sedang meringkuk di kasur..tidur kembali. Untung temen-temen cewek Neza sedang tidak ada di kamar. Hem…
            “OoMmeEenNdD….!!!!!”, teriak Opah dan Neza bersamaan.
***
Namun disamping “kesuper leletannya” dia orang yang baik dan memiliki rasa kesetiakawanan yang tinggi. Seperti pada malam itu…
            “Kruyuukk..kruyuuukk…”.Perut Neza berdemonstrasi.
 Yah, teman-teman perempuan Neza sudah terlelap semuanya. Tinggal teman-teman lelaki Neza yang masih terdengar berdiskusi di serambi depan. “huhu..bakalan gak bisa tidur semaleman nh gara-gara kelaparaan”.
            Tiba-tiba terdengar suara ketuka dipintu kamar Neza. “Nez kamu laper yak o belum tidur?. Masak yukk..?”.
“Ayuukkk…”, kata Neza girang.
 Ia buru-buru keluar kamar dan mendapati Omend tersenyum-senyum dengan 3 bungkus mie instan ditangannya. Mereka berdua pun terkekeh-kekeh menyadari kekonyolan mereka sendiri. Dengan langkah mengendap-endap mereka menuju ke dapur. Gawat kalau yang lain tahu…“Klutak…klutek..”. mereka sibuk menambahkan ini itu pada masakannya.
“Ehheeeem…masak diem-diem yah”, kata Opah salah satu temen lelaki Neza yang tahu-tahu sudah berdiri di pintu dapur. Lah..lah ternyata dibelakang Opah menyusul teman-teman lelaki Neza yang lain.
“Nih..kita tambahin. Masakin sekalian yah…kita laperrr…”, kata Opah menambahkan beberapa bungkus mie instan sekaligus.
“Hiiieehhh kejam…”.
***
Yang paling Neza ingat dari semua kejadian adalah tiap kali dia mengajar baca al-Qur’an khusus ibu-ibu tiap ba’dha isya.  Selalu saja ibu-ibu itu lebih memilih mengerubungi si slow mend. Laris manis pokoknya….
“HuuUuuuaaaAAaaahahahaha…..”. tawa mereka bersamaan demi teringat kejadian-kejadian konyol semasa KKN.
Aktivitas dan waktu memang telah memberikan jarak pada persahabatan mereka. Memang mereka jarang  bahkan bisa dibilang tidak pernah bertemu selepas KKN. Namun, ketika mereka dipertemukan lagi maka persahabatan itu akan merekah kembali.
~Tidak ada pertemuan yang abadi. Begitu juga, dengan perpisahan. Tidak ada perpisahan yang abadi~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar