Rabu
19.25..Neza berjalan pulang dari kampusnya. Entah kenapa seharian itu pikiran
Neza melayang kemana-mana. Tugasnya yang menggunung kembarpun terbengkalai
karenanya.
Jenuh dan penat bercampur jadi satu.
Neza merogoh kantung doraemonnya (sebutan
untuk tas gendongnya yang bisa dimasuki segala macam barang) mencari headset
kesayangannya. “maaf ya, aku pinjam dunianya sebentar”. Dalam beberapa detik
kemudian Neza tampak khusuk mendengarkan lantunan ayat-ayat suci al qur’an dr
mp3nya dan entah sadar atau tidak bibirnya tampak komat-kamit menirukan bacaan
sang qori’. Dunia serasa hanya miliknya saja.
Beberapa orang yang berpapasan jalan
dengan Neza melihatnya dengan mimik yang agak bertanya-tanya. “Merapal mantra
apa ya mbaknya ini”…hehehe mungkin itu yang terlintas dipikiran mereka.
Tiba-tiba Neza melepaskan headsetnya dan
tampak celingak-celinguk mencari-cari sesuatu. “Eemm…perasaanku tadi ada yang
manggil deh. Tapi ko gak ada orangnya yah?”.
“sudahlah…”, batin Neza sambil berlalu.
Saat
ia sampai di gang dengan penerangan yang agak remang sedang tiba-tiba seorang
lelaki bersepeda motor memotong langkahnya dan mengatakan sesuatu. Samar-samar
seperti berkata “ayo….jhfjhdsfkl…pulang”.
“Dasar mas-mas ganjen…”.
Dengan cuek Neza melangkah melewati sang lelaki yang
tampak masih melongo.
“Untung jalanannya ramai kalau
enggak…hhhiiiii…”.
Bergidik juga Neza membayangkannya.
“Tiiin..tiiinnnn…tiiinnnn…,
ayo ku antar pulang”, kata lelaki itu lagi.
Nampaknya ia masih mengikuti Neza dari belakang.
“Hem..minta dikasih bogem nh orang”, batin Neza dengan muka agak kesal.
“Eh…tunggu..tunggu…sepertinya aku…”.
“Omeeeennnd…”,jerit
Neza tanpa sadar.
“Sssstttzzz..jangan keras-keras. Kamu
tuh malu-maluin aku banget. Udah dipanggil-panggil dari tadi gak jawab. Ditawarin
tumpangan malah dicuekin, sekarang malah teriak-teriak”, katanya dongkol.
Neza hanya bisa nyengir menyadari tingkah konyolnya.
“Aku lagi dengerin headset mend…”.
“Ditambah
gak make kacamata. Hem parah…untungnya
aku tuh orang yang baik hati”.
“Hahahahaha…”. Mereka pun tertawa
bersama.
Dijalan mereka pun saling bertukar cerita. Mengingat
kembali masa-masa KKN ditempat terpencil yang penuh dengan keseruan.
***
Omend
nama lelaki itu namun Neza menjulukinya “Slow mend”. Mau tahu kenapa???. Karena
dia orang yang paling leleeeettt dan paling nyantaaaiii diantara temen satu
kelompoknya.
Contohnya saja saat Neza dan teman-temannya
mengadakan sosialisasi tentang pupuk kandang.
“Lho,
Nez. Si Omend mana??”.
“Hem…tercecer
dimana lagi nih anak”, batin Neza heran
Dengan agak dongkol
karena medannya yang naik turun dan udara yang panas, Neza pun kembali
lagi ke Posko mencari temannya yang tertinggal.
Bingung juga Neza mendapati keadaan posko yang sepi
tanpa penghuni. Beberapa menit kemudian Slow mend pun muncul dengan handuk
dipundaknya. Belum lagi Neza harus menunggunya berganti baju dan aksi-aksi
lainnya yang menambah panjang durasi menunggu….
“HuuUuuAAAAaaaaa….LlaaaammMMaaaa”.
teriak Neza dengan perasaan super gondok.
***
“Tan..kita piket masak kan hari ini?”,
tanya Opah sambil menghampiri Neza.
“Hem..ma slow mend tuh. Bangunin gih..”.
Opah pun segera masuk ke kamar untuk
membangunkan rekan masaknya. Grubak..grubuk..terdengar dari luar kamar.
Beberapa saat kemudian Omend keluar dari kamar dengan sarung dan mata yang
masih terpejang. Hem…Neza hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah temannya
itu.
Nah..nah
mau jalan kemana dia?...”Kriet..bruukkk..”. Kini Neza melongo melihat Omend
yang masuk ke kamar cewek.
“mana
Si Omend???”, tanya Opah dengan beberapa bungkus mie instan ditangannya.
Neza mengarahkan telunjuknya ke kamar cewek.
Buru-buru mereka berdua menyusul Omend, dan mendapatinya sedang meringkuk di
kasur..tidur kembali. Untung temen-temen cewek Neza sedang tidak ada di kamar.
Hem…
“OoMmeEenNdD….!!!!!”,
teriak Opah dan Neza bersamaan.
***
Namun disamping “kesuper leletannya” dia
orang yang baik dan memiliki rasa kesetiakawanan yang tinggi. Seperti pada
malam itu…
“Kruyuukk..kruyuuukk…”.Perut
Neza berdemonstrasi.
Yah, teman-teman perempuan Neza sudah terlelap
semuanya. Tinggal teman-teman lelaki Neza yang masih terdengar berdiskusi di
serambi depan. “huhu..bakalan gak bisa tidur semaleman nh gara-gara
kelaparaan”.
Tiba-tiba
terdengar suara ketuka dipintu kamar Neza. “Nez kamu laper yak o belum tidur?.
Masak yukk..?”.
“Ayuukkk…”, kata Neza girang.
Ia buru-buru keluar kamar dan mendapati Omend
tersenyum-senyum dengan 3 bungkus mie instan ditangannya. Mereka berdua pun
terkekeh-kekeh menyadari kekonyolan mereka sendiri. Dengan langkah
mengendap-endap mereka menuju ke dapur. Gawat kalau yang lain tahu…“Klutak…klutek..”.
mereka sibuk menambahkan ini itu pada masakannya.
“Ehheeeem…masak diem-diem yah”, kata
Opah salah satu temen lelaki Neza yang tahu-tahu sudah berdiri di pintu dapur.
Lah..lah ternyata dibelakang Opah menyusul teman-teman lelaki Neza yang lain.
“Nih..kita tambahin. Masakin sekalian
yah…kita laperrr…”, kata Opah menambahkan beberapa bungkus mie instan sekaligus.
“Hiiieehhh kejam…”.
***
Yang paling Neza ingat dari semua
kejadian adalah tiap kali dia mengajar baca al-Qur’an khusus ibu-ibu tiap
ba’dha isya. Selalu saja ibu-ibu itu
lebih memilih mengerubungi si slow mend. Laris manis pokoknya….
“HuuUuuuaaaAAaaahahahaha…..”. tawa
mereka bersamaan demi teringat kejadian-kejadian konyol semasa KKN.
Aktivitas dan waktu memang telah memberikan jarak
pada persahabatan mereka. Memang mereka jarang
bahkan bisa dibilang tidak pernah bertemu selepas KKN. Namun, ketika
mereka dipertemukan lagi maka persahabatan itu akan merekah kembali.
~Tidak ada pertemuan yang abadi. Begitu
juga, dengan perpisahan. Tidak ada perpisahan yang abadi~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar